| NO |
NIS
|
Nama Siswa |
| 1. | 111210001 | Ahmad sanusi melani |
| 2. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 3. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 4. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 5. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 6. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 7. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 8. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 9. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 10. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 11. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 12. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 13. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 14. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 15. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 16. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 17. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 18. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 19. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 20. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 21. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 22. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 23. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 24. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 25. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 26. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 27. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 28. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 2.9 | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 30. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 31. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 32. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 33. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 34. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 35. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 36. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 37. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 38. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 39. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 40. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 41. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 42. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 43. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 44. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 45. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 46. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
Perjuangan seorang pengajar bukan diukur dari segi sertifikasi yang ia dapatkan, bukan dari jabatan yang ia emban, bukan semata mata hanya ingin tampil didepan. tetapi perjuangan seorang pengajar diukur dari keiklasan yang selalu dipancarkan
Selasa, 23 April 2013
REKAP NILAI XI TKJ
Kamis, 18 April 2013
Selasa, 16 April 2013
KRITIK TERHADAP “LAKU PRIHATIN”
MAKNA PRIHATIN by sabdalangit
Untuk memudahkan pemahaman, prihatin saya akronimkan sebagai kepanjangan dari rasa perih ing sajroning batin. Perih di dalam batin karena seseorang tidak lagi bergumul dalam kenikmatan jasad mengumbar nafsu-nafsu ragawinya. Sebaliknya meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar berfungsi secara alamiah dan proporsional, yakni sekedar sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidup (survival), bukan untuk mengumbar segala keinginan ragawi yang erat dengan kenikmatan. Pengendalian atas nafsu-nafsu sebagai bentuk sikap mengikuti kareping rahsa (sejati). Sementara itu sikap mengumbar hawa nafsu merupakan perilaku menuruti segala macam kemauan dan keinginan panca indera tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban diri pribadinya maupun orang lain. Saya gambarkan sebagai sikap mengikuti rahsaning karep (mengumbar napsu hawa).
Nafsu tak perlu dimatikan, hanya butuh pengendalian diri atau sikap mengekang hawa nafsu. Jika belum terbiasa konsekuensinya akan menimbulkan efek perasaan yang tidak nikmat karena pupusnya kesenangan ragawi yang selalu didambakan jasad. Hal inilah yang membuat kekecewaan dan akhirnya menimbulkan efek “kepedihan atau kepahitan” yang dirasakannya. Sebaliknya, mengumbar hawa nafsu, akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan (bersifat semu) yang tiada taranya. Namun kesenangan itu hanya sebatas “kulit” atau kesenangan imitasi yang tak ada limitnya. Bagai meneguk air laut, semakin banyak diminum, semakin terasa haus. Untuk lebih jelasnya para pembaca silahkan membuka kembali posting saya terdahulu tentang “Di manakah level Anda” di mana saya gambarkan proses perjalanan kesadaran manusia.
Itulah gambaran dari rahsaning karep, wujud konkritnya hanya berupa “kesenangan” yang bersifat imitasi saja. Sebaliknya, kareping rahsa (sejati) sekalipun terasa pahit hanyalah pada level “kulit”nya saja. Bagi orang yang memahami hakekat kehidupan, di balik penderitaan dan kepahitan itu sungguh menyimpan sejuta kebahagiaan. Hanya saja sedikit orang yang benar-benar tahu dan mau membuktikan “postulat” ini. Karep maksudnya adalah keinginan nafsu sering dikiaskan pula sebagai “godaan setan yang terkutuk”. Godaan bisa berasal dari luar diri, yang diserap oleh panca indera, yakni; pori-pori kulit sebagai efek rangsangan akibat adanya persentuhan dengan lawan jenis dsb. Bisa pula melalui rangsangan mata, telinga, penciuman, dan indera pencicip mulut sebagai gerbang kerakusan perut. Mulut juga bisa berperan sebagai pengobral kata-kata hasutan, penebar kalimat kebencian dan permusuhan. Dalam cerita pewayangan, panca indera dilukiskan ke dalam simbol-simbol Pendawa Lima. Jika tepat memanajemen akan memproduksi output yang sangat positif dan konstruktif, sebaliknya menimbulkan output yang sangat negatif, merusak, destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan alamnya.
Untuk memudahkan pemahaman, prihatin saya akronimkan sebagai kepanjangan dari rasa perih ing sajroning batin. Perih di dalam batin karena seseorang tidak lagi bergumul dalam kenikmatan jasad mengumbar nafsu-nafsu ragawinya. Sebaliknya meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar berfungsi secara alamiah dan proporsional, yakni sekedar sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidup (survival), bukan untuk mengumbar segala keinginan ragawi yang erat dengan kenikmatan. Pengendalian atas nafsu-nafsu sebagai bentuk sikap mengikuti kareping rahsa (sejati). Sementara itu sikap mengumbar hawa nafsu merupakan perilaku menuruti segala macam kemauan dan keinginan panca indera tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban diri pribadinya maupun orang lain. Saya gambarkan sebagai sikap mengikuti rahsaning karep (mengumbar napsu hawa).
Nafsu tak perlu dimatikan, hanya butuh pengendalian diri atau sikap mengekang hawa nafsu. Jika belum terbiasa konsekuensinya akan menimbulkan efek perasaan yang tidak nikmat karena pupusnya kesenangan ragawi yang selalu didambakan jasad. Hal inilah yang membuat kekecewaan dan akhirnya menimbulkan efek “kepedihan atau kepahitan” yang dirasakannya. Sebaliknya, mengumbar hawa nafsu, akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan (bersifat semu) yang tiada taranya. Namun kesenangan itu hanya sebatas “kulit” atau kesenangan imitasi yang tak ada limitnya. Bagai meneguk air laut, semakin banyak diminum, semakin terasa haus. Untuk lebih jelasnya para pembaca silahkan membuka kembali posting saya terdahulu tentang “Di manakah level Anda” di mana saya gambarkan proses perjalanan kesadaran manusia.
Itulah gambaran dari rahsaning karep, wujud konkritnya hanya berupa “kesenangan” yang bersifat imitasi saja. Sebaliknya, kareping rahsa (sejati) sekalipun terasa pahit hanyalah pada level “kulit”nya saja. Bagi orang yang memahami hakekat kehidupan, di balik penderitaan dan kepahitan itu sungguh menyimpan sejuta kebahagiaan. Hanya saja sedikit orang yang benar-benar tahu dan mau membuktikan “postulat” ini. Karep maksudnya adalah keinginan nafsu sering dikiaskan pula sebagai “godaan setan yang terkutuk”. Godaan bisa berasal dari luar diri, yang diserap oleh panca indera, yakni; pori-pori kulit sebagai efek rangsangan akibat adanya persentuhan dengan lawan jenis dsb. Bisa pula melalui rangsangan mata, telinga, penciuman, dan indera pencicip mulut sebagai gerbang kerakusan perut. Mulut juga bisa berperan sebagai pengobral kata-kata hasutan, penebar kalimat kebencian dan permusuhan. Dalam cerita pewayangan, panca indera dilukiskan ke dalam simbol-simbol Pendawa Lima. Jika tepat memanajemen akan memproduksi output yang sangat positif dan konstruktif, sebaliknya menimbulkan output yang sangat negatif, merusak, destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan alamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)