KEHIDUPAN TEKNOLOGI
Perjuangan seorang pengajar bukan diukur dari segi sertifikasi yang ia dapatkan, bukan dari jabatan yang ia emban, bukan semata mata hanya ingin tampil didepan. tetapi perjuangan seorang pengajar diukur dari keiklasan yang selalu dipancarkan
Rabu, 23 Januari 2019
Kamis, 10 Mei 2018
REVIEW DATA MINING MENGGUNAKAN WEKA
DATA MINING
MENGGUNAKAN WEKA
Weka adalah aplikasi data mining open source
berbasis Java. Aplikasi ini dikembangkan pertama kali oleh Universitas Waikato di Selandia Baru sebelum menjadi bagian dari
Pentaho. Weka terdiri dari koleksi algoritma machine learning yang dapat
digunakan untuk melakukan generalisasi / formulasi dari sekumpulan data
sampling. Walaupun kekuatan Weka terletak pada algoritma yang makin lengkap dan
canggih, kesuksesan data mining tetap terletak pada faktor pengetahuan manusia
implementornya. Tugas pengumpulan data yang berkualitas tinggi dan pengetahuan
pemodelan dan penggunaan algoritma yang tepat diperlukan untuk menjamin
keakuratan formulasi yang diharapkan
Empat
tombol diatas dapat digunakan untuk menjalanankan Aplikasi :
- Explorer digunakan untuk menggali lebih jauh data dengan aplikasi WEKA
- Experimenter digunakan untuk melakukan percobaan dengan pengujian statistic skema belajar
- Knowledge Flow digunakan untuk pengetahuan pendukung
- Simple CLI antar muka dengan menggunakan tampilan command-line yang memungkinkan langsung mengeksekusi perintah weka untuk Sistem Operasi yang tidak menyediakan secara langsung
Pada
bagian atas window, tepatnya pada bawah judul bar. Terdapat deretan data,
seperti Prepocess,Classify,Cluster,Associate,Select Attributes Visualize. Namun
yang aktif hanya Prepocess ini dikarenakan sebelum menggunakan algoritma diatas
pastikan sudah melakukan set file yang akan dieksekusi. Kesimpulan, "Weka
itu salah satu software untuk pengerjaan data mining".
Apa itu data mining ?
Data
mining merupakan proses semi otomatik yang menggunakan teknik statistik,
matematika, kecerdasan buatan, dan machine learning untuk mengekstraksi dan
mengidentifikasi informasi pengetahuan potensial dan berguna yang bermanfaat
yang tersimpan di dalam database besar. (Turban et al, 2005 )
Data
mining merupakan analisis dari peninjauan kumpulan data untuk menemukan
hubungan yang tidak diduga dan meringkas data dengan cara yang berbeda dengan
sebelumnya, yang dapat dipahami dan bermanfaat bagi pemilik data.” (Larose,
2006)
Dan
di bawah ini saya menggunakan 2 jenis metode agar bisa dibandingkan nantinya.
Decision Table dan IBk
- Buka dataset dari UCI Machine Learning Repository
2. Pilih
dataset yang ingin di-tambang. Disini kita coba mengerjakan dataset wine.
(Dalam memilih, perhatikan keterangan detail dari dataset yang
dipilih.)
3. Pilih
Data Folder, lalu dilanjutkan dengan wine.data
4. Karena
data tersebut tidak bisa dibaca oleh Weka, maka data tersebut diubah
dulu ke .csv dengan menyalinnya ke notepad dan disave dengan nama wine.csv.
Tahap
Selanjutnya, Penggunaan Weka dimulai pada tahap ini. Tahap ini jugalah yang
akan menggunakan 2 metode berbeda dalam penyelesaiannya.
- Buka aplikasi Weka, pilih "explorer"
- Pilih "Open File"
- Pilih data yang sudah kita persiapkan sebelumnya. Di saya namanya wine.csv
Klasifikasi
yang digunakan disini ada 2 dari beberapa jenis klasifikasi,yaitu :
1. Rule Based Classifier
Mengklasifikasikan
record menggunakan aturan "if...then...". Salah satu contoh
metode yang menggunakan klasifikasi ini adalah Algoritma Decision Table.
- Pilih tab classify
- Pada tab choose, pilih "Decision Table". Hasilnya adalah seperti ini
k-NN adalah jenis algoritma yang paling "Malas". Algoritma k-NN adalah algoritma bahasa mesin yang paling sederhana.
- pilih tab classify
- Pada tab choose, pilih "IBk". Hasilnya adalah seperti berikut
Ada baiknya jika dilakukan lagi pengujian dengan memakai metode yang lain agar mencapai keakuratan yang maksimal. Dan Akhir, Setelah melakukan banyak tahapan dari awal menggunakan 2 metode yaitu Decision Table dan IBk, dapat disimpulkan bahwa IBk memiliki tingkat keakuratan lebih tinggi daripada Decision Table untuk dataset wine.
Selasa, 09 Januari 2018
PENGERTIAN PENGOLAHAN CITRA
Pengolahan citra adalah salah satu cabang dari ilmu
informatika. Pengolahan citra berkutat pada usaha untuk melakukan transformasi
suatu citra / gambar menjadi citra lain dengan menggunakan teknik tertentu.
Pengolahan citra merupakan bidang yang bersifat multidisiplin, yang terdiri
dari banyak aspek, antara lain fisika, elektronika, matematika, seni dan
teknologi komputer.
Pengolahan citra (image processing) memiliki hubungan yang
sangat erat dengan disiplin ilmu yang lain. jika sebuah ilmu disiplin ilmu
dinyatakan dengan bentuk proses suatu input menjadi output, maka pengolahan
citra memiliki input berupa citra serta output juga berupa citra.
Aplikasi pengolahan citra telah memberikan sumbangan yang
sangat berarti dalam berbagai aspek. Para perancang desain grafis telah
merasakan betapa nikmatnya menggunakan software
semacam Adobe Photoshop untuk mengerjakan berbagai tugas mereka. Pemakai
Microsoft Word bisa memberikan ilustrasi gambar yang dipoles dengan teknik
tertentu, misalnya memungkinkan gambar seolah-olah dibuat dengan goresan kapur.
Robot seperti AIBO dapat membaca mimik si pemiliknya dan melakukan aksi untuk
menghibur. Mesin inspeksi mampu mendeteksi produk yang cacat. Perangkat
presensi dapat mengenali sidik jari para mahasiswa yang akan mengikuti kuliah.
Pintu pun terbuka setelah retina mata si pegawai dipindai oleh pembaca retina
mata. Hal-hal tersebut menunjukkan beberapa contoh yang melibatkan pengolahan
citra.
Makalah ini mengupas sejumlah fondasi dalam pengolahan citra
hingga ke aplikasinya, mengombinasikan teori dan praktik, dan juga membahas
berbagai cara penggolahan citra dan sekaligus mewujudkannya ke dalam bentuk
program.
Contoh program diwujudkan dengan menggunakan Octave. Octave adalah Free Software yang
kompatibel dengan MATLAB.
Perangkat lunak ini dapat diunduh
secara gratis. Informasi pengunduhannya dapat dilihat di https://www.gnu.org/software/octave/download.html Versi Octave yang
digunakan untuk mengimplementasikan program adalah Octave 3.4.3./ 4.2.1
YUUKKK......
LANGSUNG SAJA KITA PRAKTIKKAN ..!!!!
LANGSUNG SAJA KITA PRAKTIKKAN ..!!!!
- Meningkatkan Kecerahan
Operasi dasar yang sering dilakukan pada citra adalah peningkatan kecerahan (brightness), operasi ini diperlukan dengan tujuan untuk membuat gambar menjadi lebih terang.
Secara matematis,peningkatan kecerahan dilakukan dengan cara menambahkan suatu konstanta terhadap nilai seluruh piksel. Misalkan,f(y, x) menyatakan nilai piksel pada citra berskala keabuan pada koordinat (y, x). Maka,citra baru (,)= (,) + (3.2) telah meningkat nilai kecerahan semua pikselnya sebesar terhadap citra asli f(y,x).Apabila β berupa bilangan negatif,kecerahan akan menurun atau menjadi lebih gelap. Berikut contoh meningkatkan kecerahan citra dengan memberikan perintah seperti dibawah ini
Gambar 1 (Sebelum dicerahkan Gambar)
Gambar 2 (Setelah citra dicerahkan)
Gambar 1 (Sebelum dicerahkan Gambar)
Hasilnya dapat dilihat seperti dibawah ini :
2. Merengangkan Citra
Kontras dalam suatu citra menyatakan distribusi warna terang dan warna gelap. Suatu citra berskala keabuan dikatakan memiliki kontras rendah apabila distribusi warna cenderung pada jangkauan aras keabuan yang sempit. Sebaliknya, citra mempunyai kontras tinggi apabila jangkauan aras keabuan lebih terdistribusi secara melebar. Kontras dapat diukur berdasarkan perbedaan antara nilai intensitas tertinggi dan nilai intensitas terendah yang menyusun piksel - piksel dalam citra.
Perlu diketahui, citra dengan kontras rendah acapkali terjadi karena kondisi pencahayaan yang jelek ataupun tidak seragam. Hal itu dapat diakibatkan oleh sensor - sensor penangkap citra yang tidak linear.
Agar distribusi intensitas piksel berubah perlu dilakukan peregangan kontras. Hal ini dilaksanakan dengan menggunakan rumus : (, ) = (, ) (3.3). Berdasarkan rumus di atas, kontras akan naik kalau α > 1 dan kontras akan turun kalau α < 1. Sekarang akan dicoba untuk meregangkan kontras dengan cara seperti berikut:
Gambar 1 (Sebelum dicerahkan Gambar)
Gambar 2 (Setelah meregangkan kontras)
3. Menampilkan Dua Citra Dalam Satu Jendela
Octave menyediakan fasilitas yang memungkinkan dua buah citra diletakkan dalam satu jendela dengan memberikan perintah ‘subplot’ seperti berikut :
Gambar 1. Menampilkan dua citra di dalam satu jendela
Fungsi ‘figure’ perlu dipanggil terlebih dulu sebelum memanggil ‘imshow’ untuk menampilkan dua citra di dua jendela masing – masing, Perintah ‘close all’ digunakan untuk menutup semua jendela.
Adapun pada ‘subplot’, argumen pertama menyatakan jumlah baris citra dan argumen kedua menyatakan jumlah kolom citra dalam jendela. Argumen ketiga menyatakan indeks citra dalam jendela yang bernilai antara 1 sampai dengan jumlah baris x jumlah kolom.
4. Menggunakan Histogram Citra
4. Menggunakan Histogram Citra
Pengertian histogram dalam pengolahan citra adalah
.representasi grafis untuk distribusi warna dari citra digital atau
menggambarkan penyebaran nilai-nilai intensitas pixel dari suatu citra atau
bagian tertentu di dalam citra. Dari sebuah histogram dapat diketahui frekuensi
kemunculan relatif dari intensitas pada citra, kecerahan, dan kontas dari
sebuah gambar.
Histogram citra dipresentasikan
dengan dua bentuk:
1.
pertama tabel yang memuat kolom-kolom nilai piksel jumlah
absolut setiap nilai piksel, jumlah komulatif piksel, presentase absolut setiap
nilai, dan presentase komulatifnya.
2.
kedua, gambaran grafis yang menunjukkan nilai piksel pada
sumbu x dan frekuensi kemunculan pada sumbu y.
Melalui gambaran grafis histogram ini, secara umum dapat
diketahui sifat-sifat citra yang diwakilinya. Misalnya citra yang direkam
dengan spectrum gelombang relatif pendek akan menghasilkan “ bukit tunggal “
histogram yang sempit (unimodal) wilayah yang memuat tubuh air agak luas akan
menghasilkan kenampakan histogram dengan dua puncak.
Menampilkan histogram dengan memberikan perintah sebagai berikut :
Menampilkan histogram dengan memberikan perintah sebagai berikut :
Hasilnya dapat dilihat seperti
dibawah ini :
Perlu diketahui, (0:255) untuk membentuk nilai dari 0,1,2,
dan seterusnya sampai dengan 255. Dengan kata lain, (0:255) membentuk larik1 x
256. Tanda ‘ di belakang (0:255) menyatakan operasi transpos, sehingga hasilnya
berupa larik berukuran 256x1. Perintah bar
digunakan untuk membuat diagram batang.
Terlihat pada Gambar.b : .Perhatikan keberadaan satu garis
yang cukup panjang di posisi intensitas 250, yang berasal dari bagian citra
yang berwarna hitam. Adapun puncak histogram di posisi intensitas sekitar 90
menyatakan warna dominan abu-abu.Garis panjang di sisi kanan menyatakan warna
putih.
5. Citra Negatif
Negatif Image adalah suatu citra sepeti halnya meniru film negatif pada fotografi dengan cara mengurangi nilai intensitas pixel dari nilai keabuan maksimum. Misal citra dengan 256 derajat keabuan (8 bit), maka citra negatif diperoleh dengan persaman sebagai berikut:
5. Citra Negatif
Negatif Image adalah suatu citra sepeti halnya meniru film negatif pada fotografi dengan cara mengurangi nilai intensitas pixel dari nilai keabuan maksimum. Misal citra dengan 256 derajat keabuan (8 bit), maka citra negatif diperoleh dengan persaman sebagai berikut:
X = (R + G + B) / bilangan pembagi
Y = 255 – X
Berikut contoh Citra Negatif dengan memberikan
perintah seperti dibawah ini :
- Kesimpulan
Dari Blog ini dapat kita simpulkan bahwa Pengolahan citra
adalah salah satu cabang dari ilmu informatika. Pengolahan citra, pada
usaha untuk melakukan transformasi suatu citra / gambar menjadi citra lain
dengan menggunakan teknik tertentu.
Pengolahan citra merupakan bidang yang bersifat
multidisiplin, yang terdiri dari banyak aspek, antara lain fisika, elektronika,
matematika, seni dan teknologi komputer.
Aplikasi pengolahan citra telah memberikan sumbangan yang
sangat berarti dalam berbagai aspek. Para perancang desain grafis telah
merasakan betapa nikmatnya menggunakan software
semacam Adobe Photoshop untuk mengerjakan berbagai tugas mereka.
Pemakai Microsoft Word bisa memberikan ilustrasi gambar yang
dipoles dengan teknik tertentu, misalnya memungkinkan gambar seolah-olah dibuat
dengan goresan kapur. Robot seperti AIBO dapat membaca mimik si pemiliknya dan
melakukan aksi untuk menghibur. Mesin inspeksi mampu mendeteksi produk yang
cacat. Perangkat presensi dapat mengenali sidik jari para mahasiswa yang akan
mengikuti kuliah. Pintu pun terbuka setelah retina mata si pegawai dipindai oleh
pembaca retina mata. Hal-hal tersebut menunjukkan beberapa contoh yang
melibatkan pengolahan citra.
Selasa, 23 April 2013
REKAP NILAI XI TKJ
| NO |
NIS
|
Nama Siswa |
| 1. | 111210001 | Ahmad sanusi melani |
| 2. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 3. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 4. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 5. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 6. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 7. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 8. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 9. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 10. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 11. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 12. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 13. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 14. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 15. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 16. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 17. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 18. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 19. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 20. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 21. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 22. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 23. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 24. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 25. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 26. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 27. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 28. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 2.9 | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 30. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 31. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 32. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 33. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 34. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 35. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 36. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 37. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 38. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 39. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 40. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 41. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 42. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 43. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 44. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 45. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
| 46. | 111210001 | Ahmad Nurfadillah |
Kamis, 18 April 2013
Selasa, 16 April 2013
KRITIK TERHADAP “LAKU PRIHATIN”
MAKNA PRIHATIN by sabdalangit
Untuk memudahkan pemahaman, prihatin saya akronimkan sebagai kepanjangan dari rasa perih ing sajroning batin. Perih di dalam batin karena seseorang tidak lagi bergumul dalam kenikmatan jasad mengumbar nafsu-nafsu ragawinya. Sebaliknya meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar berfungsi secara alamiah dan proporsional, yakni sekedar sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidup (survival), bukan untuk mengumbar segala keinginan ragawi yang erat dengan kenikmatan. Pengendalian atas nafsu-nafsu sebagai bentuk sikap mengikuti kareping rahsa (sejati). Sementara itu sikap mengumbar hawa nafsu merupakan perilaku menuruti segala macam kemauan dan keinginan panca indera tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban diri pribadinya maupun orang lain. Saya gambarkan sebagai sikap mengikuti rahsaning karep (mengumbar napsu hawa).
Nafsu tak perlu dimatikan, hanya butuh pengendalian diri atau sikap mengekang hawa nafsu. Jika belum terbiasa konsekuensinya akan menimbulkan efek perasaan yang tidak nikmat karena pupusnya kesenangan ragawi yang selalu didambakan jasad. Hal inilah yang membuat kekecewaan dan akhirnya menimbulkan efek “kepedihan atau kepahitan” yang dirasakannya. Sebaliknya, mengumbar hawa nafsu, akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan (bersifat semu) yang tiada taranya. Namun kesenangan itu hanya sebatas “kulit” atau kesenangan imitasi yang tak ada limitnya. Bagai meneguk air laut, semakin banyak diminum, semakin terasa haus. Untuk lebih jelasnya para pembaca silahkan membuka kembali posting saya terdahulu tentang “Di manakah level Anda” di mana saya gambarkan proses perjalanan kesadaran manusia.
Itulah gambaran dari rahsaning karep, wujud konkritnya hanya berupa “kesenangan” yang bersifat imitasi saja. Sebaliknya, kareping rahsa (sejati) sekalipun terasa pahit hanyalah pada level “kulit”nya saja. Bagi orang yang memahami hakekat kehidupan, di balik penderitaan dan kepahitan itu sungguh menyimpan sejuta kebahagiaan. Hanya saja sedikit orang yang benar-benar tahu dan mau membuktikan “postulat” ini. Karep maksudnya adalah keinginan nafsu sering dikiaskan pula sebagai “godaan setan yang terkutuk”. Godaan bisa berasal dari luar diri, yang diserap oleh panca indera, yakni; pori-pori kulit sebagai efek rangsangan akibat adanya persentuhan dengan lawan jenis dsb. Bisa pula melalui rangsangan mata, telinga, penciuman, dan indera pencicip mulut sebagai gerbang kerakusan perut. Mulut juga bisa berperan sebagai pengobral kata-kata hasutan, penebar kalimat kebencian dan permusuhan. Dalam cerita pewayangan, panca indera dilukiskan ke dalam simbol-simbol Pendawa Lima. Jika tepat memanajemen akan memproduksi output yang sangat positif dan konstruktif, sebaliknya menimbulkan output yang sangat negatif, merusak, destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan alamnya.
Untuk memudahkan pemahaman, prihatin saya akronimkan sebagai kepanjangan dari rasa perih ing sajroning batin. Perih di dalam batin karena seseorang tidak lagi bergumul dalam kenikmatan jasad mengumbar nafsu-nafsu ragawinya. Sebaliknya meredam atau mengendalikan nafsu-nafsu tersebut agar berfungsi secara alamiah dan proporsional, yakni sekedar sebagai alat mempertahankan kelangsungan hidup (survival), bukan untuk mengumbar segala keinginan ragawi yang erat dengan kenikmatan. Pengendalian atas nafsu-nafsu sebagai bentuk sikap mengikuti kareping rahsa (sejati). Sementara itu sikap mengumbar hawa nafsu merupakan perilaku menuruti segala macam kemauan dan keinginan panca indera tanpa mempertimbangkan apa yang menjadi hak-hak dan kewajiban diri pribadinya maupun orang lain. Saya gambarkan sebagai sikap mengikuti rahsaning karep (mengumbar napsu hawa).
Nafsu tak perlu dimatikan, hanya butuh pengendalian diri atau sikap mengekang hawa nafsu. Jika belum terbiasa konsekuensinya akan menimbulkan efek perasaan yang tidak nikmat karena pupusnya kesenangan ragawi yang selalu didambakan jasad. Hal inilah yang membuat kekecewaan dan akhirnya menimbulkan efek “kepedihan atau kepahitan” yang dirasakannya. Sebaliknya, mengumbar hawa nafsu, akan mendapatkan kesenangan dan kenikmatan (bersifat semu) yang tiada taranya. Namun kesenangan itu hanya sebatas “kulit” atau kesenangan imitasi yang tak ada limitnya. Bagai meneguk air laut, semakin banyak diminum, semakin terasa haus. Untuk lebih jelasnya para pembaca silahkan membuka kembali posting saya terdahulu tentang “Di manakah level Anda” di mana saya gambarkan proses perjalanan kesadaran manusia.
Itulah gambaran dari rahsaning karep, wujud konkritnya hanya berupa “kesenangan” yang bersifat imitasi saja. Sebaliknya, kareping rahsa (sejati) sekalipun terasa pahit hanyalah pada level “kulit”nya saja. Bagi orang yang memahami hakekat kehidupan, di balik penderitaan dan kepahitan itu sungguh menyimpan sejuta kebahagiaan. Hanya saja sedikit orang yang benar-benar tahu dan mau membuktikan “postulat” ini. Karep maksudnya adalah keinginan nafsu sering dikiaskan pula sebagai “godaan setan yang terkutuk”. Godaan bisa berasal dari luar diri, yang diserap oleh panca indera, yakni; pori-pori kulit sebagai efek rangsangan akibat adanya persentuhan dengan lawan jenis dsb. Bisa pula melalui rangsangan mata, telinga, penciuman, dan indera pencicip mulut sebagai gerbang kerakusan perut. Mulut juga bisa berperan sebagai pengobral kata-kata hasutan, penebar kalimat kebencian dan permusuhan. Dalam cerita pewayangan, panca indera dilukiskan ke dalam simbol-simbol Pendawa Lima. Jika tepat memanajemen akan memproduksi output yang sangat positif dan konstruktif, sebaliknya menimbulkan output yang sangat negatif, merusak, destruktif bagi diri sendiri maupun orang lain dan lingkungan alamnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
































